Sejarah

Mengenal Sejarah Kayutangan, Daerah Penuh Sejarah Di Kota Malang

Mengenal Sejarah Kayutangan, Daerah Penuh Sejarah Di Kota Malang

Malang merupakan salah satu kota tujuan wisata terbaik di Jawa Timur. Maklum saja, udaranya yang sejuk dengan banyaknya kuliner nikmat membuat kota ini tak pernah membosankan untuk dikunjungi. Tak hanya itu saja, di Malang juga ada sebuah daerah yang terkenal dengan jajaran bangunan tuanya, bernama Kayutangan.

Namanya saja sudah unik dan menarik perhatian, kan? Hingga saat ini, ada banyak versi yang beredar mengenai asal usul nama Kayutangan ini. Ada yang menyebutkan bahwa nama Kayutangan berasal dari sebuah  pohon dengan cabang berbentuk menyerupai jari-jari. Ada pula yang menyebutkan bahwa Kayutangan ini dulunya merupakan pusat kehidupan kota Malang. Di Kayutangan bisa ditemukan segela jenis industri, termasuk juga mebel. Uniknya, mebel yang ada di Kayutangan ini tidak dibuat dengan mesin melainkan secara handmade. Itulah yang disebut menjadi asal usul nama Kayutangan.

Meski hingga saat ini belum diketahui dengan pasti mana alasan penamaan yang tepat, namun nama Kayutangan sendiri memang sudah sering tersebut dalam buku dan dokumen berbahasa Belanda sejak tahun 1890-an. Dalam dokumen-dokumen tersebut, ada beberapa versi penulisan Kayutangan, mulai dari Kajoe Tangan, Kajutangan, hingga yang dipakai sampai saat ini yakni Kayutangan.

Salah satu daya tarik yang sangat melegenda di Kayutangan adalah dua buah bangunan kembar yang letaknya berseberangan. Bangunan tersebut memiliki gaya Art Deco yang dalam zaman Belanda dulu dikenal dengan nama Nieuwe Bouwen alias new building atau bangunan dengan gaya baru. Jika dilihat secara sekilas, bangunan kembar ini memang tidak memiliki bentuk yang terlalu artistik karena lebih mengutamakan sisi fungsionalnya. Namun karena bentuknya yang sangat seragam satu sama lain dan juga sangat lurus, kedua bangunan kembar ini seringkali disebut sebagai gapura yang menandai wilayah elit di Kota Malang.

Artikel Terkait : Istana Dalam Loka, Istana Kesultanan yang Menjadi Simbol Keislaman di Sumbawa

Sebagian besar bangunan di Kayutangan ini makin kental unsur Belandanya karena pernah dipugar dan ditata kembali oleh seorang arsitek bernama Karel Bos di tahun 1936. Karel Bos membangun ulang daerah Kayutangan ini tidak sendirian, namun bersama dengan Tan Siauw Khing yang merupakan konglomerat berdarah Tionghoa di zaman tersebut. Salah satu gedung kembar yang ada tersebut termasuk yang juga didanai oleh Khing dan kemudian akhirnya dijadikan toko perhiasan emas atas namanya. Sementara bangunan kembar yang ada di sebelah kana dimiliki oleh pemilik pabrik gula bernama Han Thiau An.

Sebelum dimiliki secara pribadi, kedua tanah tempat berdirinya bangunan kembar tersebut sebenarnya merupakan milih pemerintah Malang. Namun pemerintah tidak dapat menolak saat tanah dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Namun keberadaan keluarga Tan hanya bertahan hingga tahun 1964. Sebab saat itu sang ayah tak bisa lagi melanjutkan usahanya karena sudah tua sementara keempat anaknya menolak untuk menjadi penerus. Mereka sendiri kebanyakan menempuh pendidikan di Belanda sehingga tak ingin menjadi pemilik toko emas. Keluarga Tan kemudian diketahui pindah ke Belanda pada tahun 1967.

Sedangkan keluarga Han Thiau An juga menjual bangunannya tak lama setelah kemerdekaan dan tempat tersebut berubah menjadi sebuah toko buku bernama Boekhandel Slutter-C.C.T van Dorp Co. setelah itu, bangunan tersebut sempat beberapa kali beralih fungsi hingga yang terakhir menjadi Toko Rajabally. Hingga saat ini, siapapun yang berkunjung ke daerah Kayutangan masih bisa melihat nama Rajabally tersebut di depan bangunan yang sudah menua.