Bangunan Tua

Lima Bangunan Tua Bekas Peninggalan Jajahan Belanda

Nah, tentunya kalian pada belum mengetahui lebih jauh kan kalo di Indonesia tempat kita tinggali ini terdapat lima bangunan tua bekas peninggalan jajahan Belanda yang menjadi tempat pariwisata atau turis mancanegara untuk mengunjungi tempat ini loh.

Berikut dibawah ini lima bangunan tua bekas peninggalan jajahan Belanda

1. Lawang Sewu

Lawang Sewu

Siapa yang tidak mengenal Lawang Sewu yang terdapat di kota Semarang, Jawa Tengah ini. Yah betul, tempat ini merupakan peninggalan dari Belanda yang di sebut juga sebagai tempat kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.

Gedung Lawang Sewu didirikan pada tahun 1904 dan proses penyelesainnya membutuhkan waktu 3 tahun yaitu 1907. Bangunan tua ini terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu kala di sebut Wilhelminaplein.

Masyarakat sekitar yang tinggal berdekatan menyebut bangunan tua ini sebagai Lawang Sewu karena bentuk bangunan ini memiliki pintu yang sangat banyak dari bangunan biasanya. Tapi pada nyatanya bangunan ini tidak sampai memiliki pintu seribu. Namun bangunan tua ini memiliki jedela yang banyak sehingga masyarakat sekitar menanggapinya sebagai pintu.

2. Villa Isola

villa isola

Villa Isola adalah bangunan villa yang terletak di kawasan pinggiran utara kota Bandung. Berlokasi pada tanah tinggi, di sisi kiri jalan menuju daerah Lembang. Bangunan ini dahulunya di pakai oleh IKIP Bandung. Namun, sekarang sudah berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia UPI. Villa ini merupakan bangunan yang memiliki arsitektur bertara Art Deco. Villa ini juga digunakan sebagai tempat bermain para dewa poker online yang sejatinya sangat menggemari permainan poker.

Pembangunan bangunan tua Villa Isola di bangun pada tahun 1933, pemiliknya juga merupakan hartawan Belanda bernama Dominique Willem Berretty. Seterusnya bangunan ini akhirnya di jual dan berubah menjadi Hotel Savoy Homann. Dan terakhir bangunan tua ini menjadi gedung UPI saat ini.

3. Gerbang Amsterdam

gerbang amsterdam

Disebut juga sebagai Pinangpoort atau Kasteelpoort ini adalah gerbang sisa peninggalan Belanda VOC semasa pemimpinan J.P.Coen. Waktu abad 19, gerbang ini merupakan sisa dari satu-satunya  benteng yang telah di hancurkan masyarakat dan mulai ditinggalkan oleh gubernur Jenderal HW Daendels.

Selain itu gerbang bangunan tua ini juga pernah mengalami pemeliharaan berkala.Pada masa Gubernur Gustaaf Willem Baron Van Imhoff di tahun 1743-1750. Bangunan gerbang ini di lakukan renovasi dari benteng bagian selatan dan termasuk gerbang Amsterdam ini dengan perubahan gaya Rococo.

4. Museum Bank Mandiri

museum bank mandiri

Museum yang berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998. Museum Bank Mandiri pada awalnya merupakan gedung dari Nederlansche Handel-Maatschappij atau di sebut NHM sampai Factorji Batavia. Bangunan tua ini memiliki area seluas 10.039 m2.

Di tahun 1960 gedung ini di nasionalisasikan mejadi gedung pemakaian kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan BKTN bergerak di bidang ekspor impor. Seiring berjalan waktu di tanggal 31 Desember 1968 akhirnya lahirlah bank ekspor impor Indonesia. Yang menjadikan gedung bangunan tua ini beroperasi sebagai pusat Export import.

Setelah semua itu bank-bank nasionalisasi akhirnya legal merger bersama Bank Dagang Negara BDN, Bank Bumi Daya BBD, dan bank pembangunan Indonesia BAPINDO masuk ke dalam Bank Mandiri di tahun 1999. Maka gedung ini juga ikut menjadi asset Bank Mandiri.

5. Museum Nasional

museum nasional

Bangunan tua ini berasala dari tahun 1778 tepat di tanggal 24 April. Pada saat itu di tahun tersebut ada pembentukan dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. J.C.M Radermacher salah satu ketua perkumpulan menyumbang salah satu gedung yang terletak di jalan kalibesar berserta dengan seluruh aset isinya untuk menjadikannya sebagai tempat museum.

Dahulu kala pemerintahan Inggris tahun 1811-1816, Sir Thomas Stamford Raffles juga merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung yang baru terletak dekat jalan Majapahit No.3. Pada akhirnya setelah semua tersebut gedung ini digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan antara Literary Society.

2 Comments

Leave a Reply