Sejarah

Hotel Majapahit, Bangunan Bersejarah di Surabaya yang Menjadi Saksi Sejarah Indonesia

hotel majapahit, bangunan bersejarah di surabaya yang menjadi saksi sejarah indonesia

Tentunya ketika masih di Sekolah Dasar, pasti ada pelajaran sejarah yang mengulas sisi historis dan perjuangan para pejuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Dalam semua cerita sejarah tersebut, tentunya juga ada satu cerita mengenai pertempuran heroik yang terjadi di Surabaya di mana para pejuang berhasil menduduki salah satu bangunan dan kemudian menyobek bagian biru pada bendera Belanda agar tersisa warna merah dan putihnya saja.

Nah, khususnya tentang bangunan yang menjadi saksi sejarah pertempuran tersebut ternyata awalnya dibangun oleh Lucas Martin Sarkies yang membeli lahan seluas 1,000 sqm di daerah Tunjungan yang nantinya akan didirikan sebuah hotel mewah pada tahun 1900-an. Untuk mewujudkan impiannya itu, Lucas menyewa jasa desainer terkenal Belanda, Alfred Bidwell untuk membangunnya dengan bayaran 500 ribu Gulden.

Setelah dibangun selama 10 tahun, tepatnya pada tahun 1910, bangunan hotel milik Lucas selesai dikerjakan dan diberi nama Oranje Hotel dan kemudian dibuka pada tahun 1911. Pada tahun 1923 dan 1926, Oranje Hotel sedikit mengalami pemugaran pada sisi-sisinya. Oranje Hotel kembali mendapatkan pembaruan desain pada tahun 1930 karena pemiliknya, Eugene atau anak kandung Lucas yang mengelola hotel tersebut ingin agar ada sentuhan Art Deco yang sangat terkenal di Eropa pada waktu itu.

Sayangnya, pada saat Perang Dunia II di mana Jepang menjadi negara terkuat di daerah Asia Pasifik juga berhasil melakukan invansi ke Indonesia. Pada saat berada di Tanah Air, khususnya di Surabaya, Oranje Hotel dikuasai Jepang dan namanya diganti menjadi Hotel Yamato pada tahun 1942. Bangunan tersebut selain digunakan sebagai hotel, juga digunakan sebagai kantor pusat tentara Jepang di Jawa Timur.

Setelah Jepang akhirnya menyerah kalah pada akhir Perang Dunia II pada bulan Maret 1945, Yamato Hotel tersebut akhirnya dikuasai dan digunakan oleh tentara Sekutu (Inggris) dan Belanda. Hanya saja, dikarenakan pada bulan Agustus 1945, Indonesia telah mengumumkan kemerdekaannya, maka para pejuang beranggapan bahwa keberadaan tentara Belanda dan Sekutu adalah sebuah bentuk ancaman kepada negara yang harus disingkirkan.

Oleh karenanya, pada tanggal 19 September 1945, salah seorang tokoh pejuang Indonesia, Roeslan Abdoel Gani dengan beberapa tokoh pejuang lainnya melayangkan sikap keberatannya atas dikibarkannya bendera Belanda di atas menara Yamato Hotel.

Bahkan Roeslan Abdoel Gani juga mendatangi langsung perwakilan Belanda yang menempati kamar 33 di Yamato Hotel untuk meminta agar bendera mereka diturunkan. Akan tetapi pihak Belanda justru mengatakan bahwa Republik Indonesia tidak ada karena mereka belum mengakuinya.

Tidak hanya itu saja, seorang pemimpin Gerakan Belanda Indo (IEV) W.V.Ch Ploegman juga terlibat perseteruan dengan wakil dari Indonesia, Soedirman, Sidiq dan Haryono di lobi hotel. Bakan Ploegman juga menodongkan pistol ke arah Soedirman pada waktu itu.

Penodongan itulah yang menjadi puncak kemarahan Sidiq dan Haryono. Terjadi perebutan pistol yang mana membuat senjata tersebut terjatuh dan meletus otomatis yang mana pelurunya mengenai langit-langit.

Pada saat perseteruan terjadi, Haryono berhasil membawa Soedirman ke luar hotel, sedangkan Sidiq berkelahi dengan Ploegman dan berhasil memenangkannya. Ploegman tewas di tangan Sidiq. Sayangnya, suara pistol tersebut membuat banyak tentara Belanda lainnya merangsek dan menyerang SIdiq yang seorang diri. Sidiq memang sempat melarikan diri, namun dikarenakan terkena sabetan senjata tajam, dia akhirnya tewas di tempat.

Dengan terjadinya peristiwa tersebut, secara spontan masyarakat Surabaya yang sudah berkumpul sedemikian banyak di seberang Yamato Hotel langsung bergegas maju dan ada beberapa pemuda yang naik ke menara hotel untuk menurunkan bendera.

Pada saat semuanya bergegas naik, salah seorang pemuda bernama Kusno Wibowo berhasil terlebih dahulu berdiri di dekat tiang bendera dan kemudian ketika dia meminta agar dibawakan bendera Merah Putih, banyak orang yang sedang tidak membawanya. Untuk mempersingkat waktu akhirnya, Kusno menyobek bendera Belanda pada bagian birunya tersebut dan menyisakan warna merah dan putih saja.

Setelah aksi penyobekan bendera tersebut, terjadi pertempuran hebat antara masyarakat dan pejuang Surabaya yang didukung oleh berbagai golongan pejuang lain dari berbagai tempat di Jawa Timur. Bahkan pertempuran tersebut membuat salah seorang brigadir jenderal terkemuka dunia asal Inggris, Aubertin Walter Sothern Mallaby tewas.

Usai peristiwa tersebut, keturunan dari Lucas mengambil kembali hotel miliknya tersebut pada tahun 1946 dan mengubah namanya menjadi L.M.S Hotel yang pada tahun 1969 berganti nama lagi menjadi Hotel Majapahit setelah bangunannya dibeli oleh Mantrust Holding Co. Nama Hotel Majapahit kemudian mendapat tambahan kata menjadi Mandarin Orientaal Hotel Majapahit setelah Mandarin Oriental Group mengakuisisinya pada tahun 1996. Pada tahun 2006 kemarin, nama hotel tersebut dikembalikan menjadi Hotel Majapahit setelah dibeli oleh CCM Group.